Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Menembus Dinding Individualisme: Peran Bimbingan Konseling Menyalakan Empati Siswa

Kontributor : SN Editor: Redaksi
IMG 20260204 210952

Kalau hal ini dibiarkan, kita bisa saja menghasilkan anak-anak yang pintar secara pelajaran, tapi kurang punya hati untuk sesama. Padahal, dukungan dari teman sebaya sangat penting untuk perkembangan mental dan kepercayaan diri anak. Tanpa budaya saling menolong, suasana belajar jadi kaku dan hubungan antar siswa tidak hangat.

Pendampingan Sebaya: Belajar Peduli Bersama

Advertisement
PASANG IKLAN DISINI
Scroll kebawah untuk lihat konten

Untuk menjawab masalah ini, sebagai guru BK di SMP Negeri Tumu, saya mencoba pendekatan yang disebut “Pendampingan Sebaya.” Intinya, siswa diajak untuk tidak berjalan sendiri, tapi tumbuh bersama.

Beberapa langkah yang dilakukan antara lain; Pertama, menanamkan nilai empati dalam layanan BK.
Dalam setiap kegiatan BK, baik di kelas maupun kelompok kecil, siswa diajak memahami bahwa semua orang pasti pernah mengalami kesulitan. Karena itu, membantu teman bukanlah hal memalukan, tapi justru tanda kedewasaan.

Kedua, sistem tutor dan mentor sebaya.
Siswa yang lebih cepat memahami pelajaran diajak membantu temannya yang masih kesulitan. Jadi, keberhasilan bukan hanya soal nilai sendiri bagus, tapi juga tentang seberapa besar kita mau membantu teman supaya sama-sama maju.

Baca Juga :  Mengukur Kadar Kepemimpinan: TNI vs Politisi untuk Kursi Gubernur NTT
  • Bagikan