Mengajarkan Kasih di Era Media Sosial: Pengalaman Guru PAK di Pedalaman TTS

Kontributor : Yufice Nino Editor: Redaksi
IMG 20260615 WA0050

Pendidikan Agama Kristen pada hakikatnya tidak hanya bertujuan memberikan pengetahuan tentang Alkitab dan ajaran gereja. Lebih dari itu, pendidikan ini diarahkan untuk membentuk karakter murid agar mampu menerapkan nilai kasih, kejujuran, tanggung jawab, pengendalian diri, kerendahan hati, serta penghargaan terhadap sesama dalam kehidupan nyata. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting bagi pembentukan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa proses tersebut tidak selalu berjalan mudah. Masih ditemukan murid yang kurang menghargai guru saat pembelajaran berlangsung, mengganggu teman di dalam kelas, kurang bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, bahkan menunjukkan sikap acuh terhadap proses belajar. Tidak sedikit pula murid yang sering tertidur saat jam pelajaran berlangsung sehingga sulit mengikuti pembelajaran secara optimal.

Awalnya saya menganggap kondisi tersebut sebagai bentuk kurangnya disiplin belajar. Akan tetapi, setelah melakukan pendekatan yang lebih mendalam melalui pengamatan dan dialog pribadi, saya menemukan bahwa persoalannya jauh lebih kompleks. Banyak murid menghabiskan waktu hingga larut malam untuk bermain media sosial, menonton video, atau berinteraksi di berbagai platform digital. Akibatnya, mereka datang ke sekolah dalam kondisi lelah, kurang bersemangat, dan sulit berkonsentrasi saat pembelajaran berlangsung.

  • Bagikan
Exit mobile version