Dampak dari kondisi tersebut mulai terlihat dalam proses pembelajaran. Nilai rata-rata mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen mengalami penurunan dan sebagian murid belum mampu mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Selain itu, suasana belajar menjadi kurang kondusif karena perilaku beberapa murid sering mengganggu konsentrasi teman-teman yang ingin belajar dengan baik. Jika situasi ini dibiarkan, maka tidak hanya berdampak pada prestasi akademik, tetapi juga pada perkembangan karakter murid dalam jangka panjang.
Menghadapi situasi tersebut, saya menyadari bahwa pendekatan yang bersifat instruktif semata tidak akan cukup. Murid tidak hanya membutuhkan guru yang mengajar, tetapi juga sosok yang mampu mendengarkan, memahami, dan mendampingi mereka dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Oleh karena itu, saya mencoba menerapkan pendekatan Pastoral Konseling Kreatif (Heart-to-Heart Approach) sebagai salah satu strategi pembelajaran dan pendampingan.
Dalam pendekatan ini, saya tidak memosisikan diri sebagai hakim yang hanya mencari kesalahan murid, melainkan sebagai pendamping yang hadir untuk membantu mereka menemukan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi. Saya mengadakan dialog pribadi dengan murid di luar jam pelajaran untuk menggali berbagai faktor yang memengaruhi perilaku mereka.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
