Belum sebulan lebih hajatan politik pemilihan legislatif, kini politik pilkada propinsi, pemilihan gubernur – wakil gubernur propinsi Nusa Tenggara Timur digaungkan. Ramai kompetitor politik kembali mengadu kehebatan. Tampil orang-orang yang merasa mampu dan hebat sebagai calon pemimpin propinsi Nusa Tenggara Timur.
Banyak politisi, mantan birokrat, akademisi dan kaum teknokrat dan lain-lain yang sangat hebat, punya kapasitas dan kapabilitas, seharusnya berkesempatan menjadi pemimpin yang melayani namun sayangnya mentok pada kendaraan partai pengusung. Semacam sistem politik kepartaian yang telah melokalisasi ruang politik yang meniscayakan bukan kader partai.
Sementara jalur independen dengan aturan yang merumitkan kandidat potensial untuk ikut berlaga. Al-hasil, politisi penguasa partai yang menang di legislatif lalu meletakan jabatan yang telah dipercayakan rakyat lalu harus kembali merambangi jalur eksekutif. Terkesan seolah tidak ada orang lain yang lebih baik, lebih hebat, lebih kredibel.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









