Satu Kalimat, Satu Keberpihakan

satu-kalimat-satu-keberpihakan
Satu Kalimat, Satu Keberpihakan

Klarifikasi resmi memang kemudian disampaikan. Dialog dijanjikan. Namun semua itu datang terlambat. Ketika negara membiarkan hak pegawainya tergantung terlalu lama, yang dipertaruhkan bukan sekadar kepercayaan birokrasi, melainkan legitimasi moral kekuasaan.

Keputusan Bupati Kupang patut diapresiasi karena menunjukkan keberpihakan nyata. Tetapi keberpihakan yang bergantung pada intervensi personal adalah tanda sistem yang rapuh. Negara tidak boleh hadir hanya ketika pemimpinnya berbelas kasih. Hak aparatur harus dilindungi oleh mekanisme yang bekerja otomatis, adil, dan transparan.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten

Peristiwa ini seharusnya menjadi peringatan keras: jangan jadikan krisis sebagai prasyarat keadilan. Pemerintah daerah wajib memastikan persoalan serupa tidak terulang, bukan dengan retorika, melainkan dengan pembenahan serius tata kelola anggaran dan komunikasi publik.

Satu kalimat telah menyelamatkan ribuan PPPK dari ketidakpastian. Tetapi pekerjaan terpenting justru dimulai setelahnya membangun sistem pemerintahan yang tidak lagi membiarkan hak warga negaranya disandera prosedur.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten
Baca Juga :  Menghidupkan Kelas Seni Budaya: Saat Tari Menjadi Jembatan, Bukan Beban
  • Bagikan