Dari Absen Digital hingga Gerakan Menulis Esai, Apris Manafe Berupaya Mengubah Wajah Pendidikan di TTS

Kontributor : L.A Editor: Redaksi
IMG 20260704 WA0012

Menurutnya, sebelum absensi digital diterapkan, keterlambatan sering dianggap sebagai hal yang biasa.

“Dulu kami datang tanpa terlalu memikirkan jam. Kalau terlambat pun terasa biasa saja. Tetapi sekarang baik kepala sekolah maupun guru berusaha hadir tepat waktu. Ternyata ketika semua hadir lebih awal, proses pembelajaran berjalan lebih baik, lebih tertib, dan peserta didik memperoleh pelayanan yang maksimal,” tuturnya.

Pengalaman serupa disampaikan Kepala SMP Negeri Bonleu, Semi Rith Oematan. Ia mengatakan, sebelum penerapan absensi digital masih cukup sering guru menghubunginya pada pagi hari untuk meminta izin datang terlambat dengan berbagai alasan, mulai dari urusan keluarga, pekerjaan di rumah, hingga kepentingan pribadi lainnya.

“Kalau dulu hampir setiap minggu ada saja guru yang menghubungi saya untuk menyampaikan akan terlambat datang ke sekolah. Kondisi seperti itu tentu berpengaruh terhadap kesiapan pembelajaran, terutama pada jam-jam pertama,” ujarnya.

Namun, sejak absensi digital diterapkan, kebiasaan tersebut mulai berubah secara nyata.

  • Bagikan
Exit mobile version