Dari Murid yang Sulit Membaca hingga Berani Berpendapat: Apa yang Berubah di Kelas Saya?

Kontributor : Ariyani Udin Editor: Redaksi
IMG 20260820 WA0006

Tujuannya bukan membeda-bedakan murid, tetapi memberikan jalan belajar yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

Dalam praktiknya, saya juga menggunakan gambar, benda konkret, cerita, diskusi, tayangan visual, serta aktivitas yang memungkinkan murid belajar melalui pengalaman langsung. Saya tidak ingin pembelajaran hanya berlangsung melalui ceramah guru dan buku teks.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten

Murid perlu melihat persoalan, membicarakannya, mencoba menyelesaikannya, dan menjelaskan kembali apa yang mereka pahami.

Dari Soal di Buku ke Masalah di Sekitar Murid

Pada tahap berikutnya, saya mencoba mengintegrasikan Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran.

Sederhananya, murid tidak hanya diberikan materi kemudian soal. Mereka diajak berhadapan dengan sebuah persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka.

Mengapa pendekatan seperti ini penting?

Karena literasi dan numerasi bukan sekadar kemampuan membaca teks atau melakukan operasi hitung. Murid perlu belajar menggunakan kemampuan tersebut untuk memahami situasi dan mengambil keputusan.

Advertisement
https://idealis.id/wp-content/uploads/2026/04/Untitled-image-6.jpeg
Scroll kebawah untuk lihat konten
Baca Juga :  Inspirasi Hebat dari Simon Kamlasi-Adrianus Garu: STKIP Bajawa Harus Jadi Penggerak Masa Depan NTT
  • Bagikan