Bagi sebagian guru, ini mungkin pertama kalinya mereka melihat teknologi bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai sahabat dalam mengajar.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, menyadari betul bahwa pelatihan seperti ini sering kali berhenti di ruang kegiatan. Karena itu, ia mengingatkan dengan nada tegas namun penuh harap.
“Jangan berhenti di sini. Guru harus menjadi penggerak perubahan di sekolah masing-masing,” ujarnya.
Pesan itu sederhana, tetapi berat. Sebab perubahan tidak selalu mudah. Ia menuntut keberanian untuk keluar dari kebiasaan lama, mencoba hal baru, dan terkadang menghadapi kegagalan.
Namun justru di situlah letak harapannya.
Yayasan Emanuel, sebagai mitra dalam kegiatan ini, memilih pendekatan yang tidak hanya teoritis. Para guru diajak mengalami langsung, mempraktikkan, dan merasakan bagaimana sebuah metode bisa bekerja di kelas.
“Guru tidak cukup hanya tahu. Mereka harus mencoba, merasakan, lalu membawa itu kembali ke sekolah,” ungkap Ketua Yayasan Emanuel.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
