Di Balik Pelatihan Lima Hari, Ada Mimpi Besar untuk Sekolah di TTS

Kontributor : Lenzho Asbanu Editor: Redaksi
IMG 20260427 111829

Bagi sebagian guru, ini mungkin pertama kalinya mereka melihat teknologi bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai sahabat dalam mengajar.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, menyadari betul bahwa pelatihan seperti ini sering kali berhenti di ruang kegiatan. Karena itu, ia mengingatkan dengan nada tegas namun penuh harap.

“Jangan berhenti di sini. Guru harus menjadi penggerak perubahan di sekolah masing-masing,” ujarnya.

Pesan itu sederhana, tetapi berat. Sebab perubahan tidak selalu mudah. Ia menuntut keberanian untuk keluar dari kebiasaan lama, mencoba hal baru, dan terkadang menghadapi kegagalan.

Namun justru di situlah letak harapannya.

Yayasan Emanuel, sebagai mitra dalam kegiatan ini, memilih pendekatan yang tidak hanya teoritis. Para guru diajak mengalami langsung, mempraktikkan, dan merasakan bagaimana sebuah metode bisa bekerja di kelas.

“Guru tidak cukup hanya tahu. Mereka harus mencoba, merasakan, lalu membawa itu kembali ke sekolah,” ungkap Ketua Yayasan Emanuel.

  • Bagikan
Exit mobile version