“Teknologi adalah jembatan antara potensi lokal yang melimpah dan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Kita harus memanfaatkan inovasi untuk menghasilkan produk pangan berkualitas yang kompetitif di pasar nasional dan internasional,” jelas Andriko.
Gubernur Andriko juga menyoroti pentingnya diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal. Ia menyebut bahwa NTT memiliki potensi besar di sektor blue food, seperti rumput laut dan hasil perikanan, serta potensi tanaman lokal seperti sorgum, jagung, dan ubi-ubian.
“Diversifikasi pangan ini adalah solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada impor,” tambahnya.
Mahasiswa, menurut Andriko, harus menjadi pelopor dalam adopsi teknologi dan pengembangan inovasi di sektor pertanian.
“Kalian adalah agen perubahan. Gunakan ilmu dan teknologi untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan bagi masalah-masalah pertanian dan ketahanan pangan di NTT,” tegasnya.
Gerakan Kemanusiaan Percepatan Penanganan Stunting Terpadu (GKP2ST)
Dalam paparannya, Andriko juga mempromosikan program unggulan Pemprov NTT, yakni GKP2ST, yang bertujuan untuk menurunkan angka stunting melalui pendekatan berbasis keluarga.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








