Pada akhirnya, membangun pendidikan bukan hanya tentang menyediakan fasilitas atau menuntaskan kurikulum. Lebih dari itu, pendidikan adalah tentang membuka kesempatan, menumbuhkan kepercayaan diri, dan membantu setiap anak menemukan kemampuan terbaik dalam dirinya.
Dari SMA Negeri Fautmolo, sebuah harapan sedang dirawat. Harapan agar guru dan murid tidak hanya menjadi penikmat bacaan, tetapi juga berani menjadi pencipta gagasan dan penghasil karya.
Kisah ini sekaligus mengingatkan bahwa membangun budaya literasi bukan tanggung jawab sekolah semata. Dibutuhkan kolaborasi antara pendidik, komunitas literasi, mitra pendidikan, dan berbagai pihak yang percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk berkembang.
Sebab, ketika seorang kepala sekolah berani membuka ruang, ketika guru bersedia mendampingi, ketika komunitas hadir memberikan dukungan, dan ketika murid diberi kepercayaan untuk berkarya, maka keterbatasan bukan lagi alasan untuk berhenti bertumbuh.
Dari Fautmolo, api literasi itu sedang dinyalakan. Bukan hanya untuk melahirkan sebuah buku, melainkan untuk menumbuhkan generasi yang berani berpikir, percaya pada kemampuannya, dan tidak takut menyuarakan gagasan. Sebab, setiap anak memiliki cerita, dan setiap cerita layak mendapatkan kesempatan untuk menjadi karya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








