Pendidik Disorot: Kontributor Kemiskinan di NTT?
Workshop STAKRI–ELPIDA Menggugat Peran Guru dan Dunia Pendidikan
OPINI, SNC – Kemiskinan di Nusa Tenggara Timur (NTT) telah lama menjadi paradoks pembangunan nasional. Di tengah pertumbuhan anggaran pendidikan, peningkatan angka partisipasi sekolah, dan beragam program afirmasi negara, kemiskinan di provinsi ini tetap bertahan sebagai persoalan struktural yang sulit diurai. Situasi ini mendorong pertanyaan mendasar yang jarang diajukan secara jujur: apakah dunia pendidikan—termasuk para pendidik—benar-benar menjadi solusi, atau justru ikut berkontribusi dalam melanggengkan kemiskinan?
Pertanyaan inilah yang secara berani diangkat dalam Workshop STAKRI–ELPIDA bertema “Teachers Who Transform!” di Kupang. Forum ini bukan sekadar kegiatan peningkatan kapasitas, melainkan ruang refleksi kritis yang menggugat peran guru, sekolah, dan sistem pendidikan dalam konteks kemiskinan multidimensi di NTT.
Kemiskinan sebagai Masalah Multidimensional
Selama ini, kemiskinan di NTT kerap dipahami secara sempit sebagai persoalan ekonomi: rendahnya pendapatan, terbatasnya lapangan kerja, atau minimnya akses infrastruktur. Namun, pendekatan tersebut tidak cukup menjelaskan mengapa kemiskinan tetap bertahan meskipun tingkat pendidikan formal terus meningkat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









