Untuk kebutuhan jangka pendek dan menengah, HKTI TTS juga akan mendorong pengembangan hortikultura, seperti aneka sayuran, pepaya, pisang, mangga, semangka, melon, tomat, bawang putih, dan bawang merah.
Produksi pangan lokal tersebut akan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar tradisional, pelaku usaha, koperasi, serta peluang rantai pasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal ini sejalan dengan arah HKTI NTT yang menempatkan integrasi produksi petani lokal dengan program pangan dan gizi sebagai salah satu peluang pengembangan pertanian di daerah.
Namun, Phil menegaskan peluang tersebut membutuhkan kesiapan dari sisi produksi, kualitas, volume, jadwal pasokan, tata kelola, serta kemitraan yang adil.
Dengan demikian, petani tidak hanya menjadi pihak yang memproduksi bahan pangan, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi dari rantai pasok tersebut.
Program Harus Berangkat dari Data
Phil menilai pembangunan pertanian tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk semua wilayah.
Karakter lahan, sumber air, jenis tanaman, kemampuan produksi, hingga akses pasar setiap kecamatan dan desa berbeda.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
