“Dari 119 pendaftar melalui open recruitment, terpilih 32 mahasiswa yang lolos seleksi ketat untuk dilatih dan didampingi secara intensif. Jadi kalau ada teman-teman mahasiswa yang membutuhkan teman untuk curhat, tim ini sudah ada dan siap,” ujar Nicholas.
Teman Sebaya sebagai Pintu Pertama
Model dukungan sebaya memiliki posisi penting karena mahasiswa yang mengalami tekanan sering kali lebih nyaman terlebih dahulu berbicara dengan orang yang berada dalam lingkungan dan kelompok usia yang sama.
Karena itu, 32 mahasiswa tersebut diproyeksikan menjadi penghubung awal bagi mahasiswa yang membutuhkan ruang untuk bercerita maupun dukungan ketika menghadapi tekanan.
Namun, dukungan sebaya bukan pengganti tenaga profesional. Peran utama para mahasiswa pelopor adalah memberikan dukungan awal, mengenali tanda-tanda tekanan psikologis, serta membantu mengarahkan mahasiswa kepada bantuan yang lebih tepat ketika diperlukan.
Untuk memastikan kemampuan tersebut, peserta tidak hanya mengikuti satu kali pelatihan. Mereka akan mendapatkan pendampingan intensif selama satu bulan setelah pelaksanaan kegiatan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
