Sebaliknya, teknologi tersebut perlu dimanfaatkan secara bijak sebagai alat bantu sekaligus mitra berpikir.
Namun, penggunaan AI harus tetap disertai kemampuan manusia untuk mengkritisi informasi dan hasil yang dihasilkan teknologi.
Dosen Sosiologi FISIP Undana, Dr. Lasarus Jehamat, M.A., mengatakan perkembangan teknologi digital membawa perubahan terhadap cara manusia memperoleh pengetahuan.
Menurut dia, dominasi logika komputasional yang serba cepat berpotensi mengurangi ruang bagi proses berpikir mendalam.
“Terjadi erosi pada proses berpikir mendalam akibat logika komputasional yang serba instan. Kebenaran kini sering kali diukur dari viralitas platform, bukan kedalaman akademis,” kata Lasarus.
Karena itu, ia menekankan pentingnya mempertahankan kemampuan akademisi dan mahasiswa untuk membaca secara mandiri serta terlibat dalam diskusi kritis.
Sekretaris Umum Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI), Dr. Idham Irwansyah Idrus, S.Sos., M.Pd., turut membahas peluang dan tantangan penerapan OBE di tengah perkembangan AI.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
