Menurutnya, jumlah pekerja yang mencapai 25 orang dalam satu lokasi membutuhkan sistem pembagian tugas yang lebih efektif agar pekerjaan berjalan optimal.
“Kami berharap pada tahap berikutnya koordinasi bisa lebih baik dan material tersedia tepat waktu sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien,” katanya.
Masukan tersebut menjadi bagian dari evaluasi yang akan dilakukan Undana dan IOM sebelum memasuki tahap lanjutan program.
Universitas memastikan bahwa hasil evaluasi akan digunakan untuk menyempurnakan mekanisme pelaksanaan, terutama bagi kelompok pengungsi berikutnya yang akan mengikuti pelatihan serupa.
Di tengah meningkatnya tantangan kemanusiaan global, kolaborasi antara Undana dan IOM menunjukkan bahwa kampus dapat memainkan peran strategis dalam menjembatani pendidikan, pembangunan, dan pemberdayaan sosial.
Proyek pembangunan ruang HMP Teknik Sipil bukan hanya menghasilkan bangunan baru bagi mahasiswa. Lebih dari itu, proyek tersebut menjadi simbol bahwa pendidikan tinggi dapat menghadirkan solusi nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat luas, termasuk mereka yang selama ini hidup dalam ketidakpastian sebagai pengungsi internasional.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
