SN, Kupang – Di saat banyak orang sibuk menyusun rencana liburan atau merancang rapat strategis di pusat kota, Jane Natalia Suryanto justru memilih jalan yang sepi—menuju pelosok-pelosok yang kerap luput dari peta perhatian, jauh di timur Indonesia: Nusa Tenggara Timur. Perjalanan itu bukan bagian dari tugas dinas, apalagi kewajiban formal. Ia datang karena panggilan hati.
Langkah ke Tanah yang Terlupakan
“Perjalanan ke sana tidak selalu mudah, tapi selalu saya nanti,” ucap Jane, dengan senyum tenang yang mencerminkan keteguhan. Jalanan terjal, minimnya infrastruktur, bahkan sinyal telepon yang menghilang tak pernah jadi alasan untuk menyerah. Di tempat-tempat terpencil itu, ia justru merasa paling hidup—dan paling diterima.
Tak membawa banyak barang, dan bukan pula donasi yang berlimpah. Jane membawa yang lebih berharga: kehadiran yang tulus. Ia tak datang untuk dinanti bak tokoh penting. Ia datang tanpa seremoni, tanpa spanduk penyambutan, dan tanpa ekspektasi akan pujian.
Menjadi Teman, Bukan Tamu
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









