Di balik berbagai karya yang dipamerkan, tersimpan sebuah pesan penting: budaya akan lebih mudah bertahan jika mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pendukungnya.
Banyak warisan budaya di berbagai daerah mengalami kemunduran karena tidak lagi dianggap mampu memenuhi kebutuhan hidup generasi muda. Ketika profesi penenun dipandang tidak menjanjikan, minat untuk meneruskan tradisi pun menurun.
Karena itu, menghubungkan tenun dengan ekonomi kreatif menjadi strategi yang sangat relevan. Produk budaya yang memiliki nilai pasar akan menciptakan insentif bagi masyarakat untuk terus melestarikannya.
Pameran ini juga menyoroti pentingnya digitalisasi dalam pengembangan industri tenun. Ketua Panitia, Sariwati Nulima, menyebut terdapat tiga pilar utama yang menjadi fokus gerakan ini, yaitu pelestarian motif asli, digitalisasi pola dan pemasaran, serta promosi produk turunan tenun.
Digitalisasi menjadi kata kunci penting dalam era saat ini. Melalui teknologi digital, motif-motif tenun dapat didokumentasikan secara sistematis sehingga tidak hilang ditelan waktu. Pada saat yang sama, pemasaran digital membuka akses pasar yang jauh lebih luas dibandingkan metode konvensional.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









