SN – Calon Gubernur NTT, Simon Petrus Kamlasi (SPK), melakukan kunjungan bersejarah ke Kampung Adat Namata di Desa Raeloro, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua. Dalam kunjungan ini, SPK disambut secara adat oleh para penjaga adat Kampung Namata, menandakan penerimaan dirinya sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat Sabu.
Sebagai simbol penerimaan, Simon Petrus Kamlasi diberi nama adat Ma Pannu Pe, yang berarti “bulan terang selepas purnama.” Nama ini memiliki makna mendalam sebagai harapan agar SPK bersinar sebagai pemimpin tanpa memandang perbedaan. Sang istri, Esther Meilani Kamlasi-Siregar, juga diberi nama adat Ina Ratu, yang melambangkan seorang perempuan pemimpin yang bijaksana dan mampu mengayomi kaumnya.
Penerimaan Adat yang Penuh Makna
Marihi, penjaga dan juru kunci rumah adat Kampung Namata, menjelaskan bahwa pemberian nama adat kepada SPK merupakan simbol penerimaan secara adat. “Nama Ma Pannu Pe diambil dari nama bapak Simon Petrus sendiri. Artinya, bulan terang setelah purnama, yang melambangkan harapan agar beliau menjadi pemimpin yang bersinar dan membawa keadilan,” ungkap Marihi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








