Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Bahasa Kepemimpinan dari Oematnunu: Saat Aurum dan Serena Bicara tentang Pemuda, Gereja, dan Masa Depan

Kontributor : Yos B. Editor: Redaksi
bahasa-kepemimpinan-dari-oematnunu-saat-aurum-dan-serena-bicara-tentang-pemuda-gereja-dan-masa-depan
Bahasa Kepemimpinan dari Oematnunu: Saat Aurum dan Serena Bicara tentang Pemuda, Gereja, dan Masa Depan

“Gereja dan pemerintah harus berjalan beriringan. Ini bukan hubungan atasan dan bawahan, tapi kemitraan yang setara untuk membangun kesejahteraan bersama,” katanya.

Jika Aurum berbicara dengan semangat reflektif, maka Serena C. Francis menghadirkan sentuhan empatik dalam gaya bicaranya. Ia tidak hanya bicara tentang kebijakan, tapi juga tentang cinta dalam tindakan.

Ia menceritakan bagaimana Pemerintah Kota Kupang bermitra dengan gereja melalui berbagai program pemberdayaan, salah satunya Sunday Market Saboak di Taman Nostalgia — program ekonomi kreatif yang melibatkan lebih dari seratus pelaku UMKM, dengan perputaran ekonomi mencapai tiga miliar rupiah selama 18 minggu.

“Sunday Market bukan sekadar tempat jualan, tapi ruang kebersamaan, solidaritas, dan pemberdayaan. Gereja tidak hanya bicara tentang doa, tapi juga tentang kemandirian umat,” jelas Serena.

Serena juga berbagi tentang program **INAKASIH (Intervensi Bantuan Pembalut Gratis bagi Perempuan Prasejahtera) — inovasi sosial yang menjadi bentuk nyata kepemimpinan berempati.

Baca Juga :  Lembaga Adat Desa Resmi Dikukuhkan, Bupati Yos Lede Tekankan Peran Adat dalam Pembangunan dan Penyelesaian Konflik Sosial
  • Bagikan