Menjelang petang, matahari merunduk perlahan di ufuk barat Oematnunu. Suara tawa para pemuda bercampur dengan lagu pujian, menciptakan harmoni yang hangat. Di antara mereka, ada cahaya harapan yang lahir — tentang masa depan, tentang iman, dan tentang kepemimpinan yang membumi.
Dari Oematnunu, dua pemimpin itu tidak hanya meninggalkan pesan, tetapi bahasa kepemimpinan baru: bahasa yang lahir dari hati yang melayani, dari cinta yang bekerja, dan dari iman yang hidup dalam tindakan nyata.
Seperti benih yang ditanam di tanah subur, kata-kata mereka akan tumbuh menjadi inspirasi — membentuk pemuda GMIT menjadi pemimpin yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi mampu menghadirkan kasih dalam kerja, harapan dalam pelayanan, dan terang dalam gelapnya zaman.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









