Dengan kemeja putih sederhana dan senyum khasnya, Aurum Titu Eki membuka pembicaraan dengan nada yang rendah tapi tegas. Ia menatap barisan pemuda di depannya, lalu berkata,
“Kalian adalah aset terbesar bangsa ini. Kita sedang memasuki masa bonus demografi, masa di mana jumlah penduduk usia produktif terbanyak dalam sejarah. Tapi jumlah besar itu tidak berarti apa-apa tanpa kualitas manusia yang unggul.”
Pesan itu disampaikan tanpa jargon. Aurum berbicara seperti seorang ayah kepada anak-anaknya — mengingatkan bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari jabatan atau gelar, melainkan dari **tanggung jawab dan ketulusan hati**.
“Dalam keluarga pun, ketika kalian mampu mengambil keputusan yang baik, itu bentuk kepemimpinan. Kalau hal kecil saja diabaikan, bagaimana Tuhan akan mempercayakan hal yang besar?” ucapnya dengan nada lembut, namun menggugah.
Aurum menegaskan bahwa pembentukan karakter dan kepemimpinan pemuda tidak bisa dilepaskan dari peran lembaga sosial dan keagamaan, terutama gereja. Gereja, katanya, adalah rumah pembentukan jiwa yang berakar pada kasih dan kebenaran.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









