“Kepemimpinan perempuan tidak sekadar bicara posisi, tapi bicara kepedulian. Kita harus peka pada isu-isu yang sering dianggap sepele, seperti kesehatan perempuan dan akses kesetaraan,” ujarnya.
Suasana hening sejenak ketika Serena berbicara tentang arti pelayanan publik.
“Kalau kita ingin menjadi pemimpin, kita harus siap mendengarkan. Pemimpin bukan yang paling tahu, tapi yang paling mau belajar dan melayani,” katanya, disambut tepuk tangan hangat dari ratusan pemuda yang hadir.
Forum itu seolah menjadi titik temu antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial. Para pemuda GMIT belajar bahwa kepemimpinan tidak hanya tumbuh dari mimbar gereja atau kantor pemerintahan, tetapi dari kehidupan sehari-hari — dari bagaimana seseorang memperlakukan sesama dan menjaga alam ciptaan Tuhan.
Aurum dan Serena sama-sama menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor: gereja sebagai penjaga moralitas, pemerintah sebagai fasilitator, dan pemuda sebagai penggerak masa depan.
“Kupang tidak akan maju jika anak mudanya hanya menonton. Kalian harus turun tangan, menjadi pelaku, bukan penonton sejarah,” seru Aurum dengan penuh semangat.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









