Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Kawasan Labuan Bajo Tercoreng: Mafia Tanah Rampas Hak Petani Lokal

Kontributor : Gus Din Editor: Redaksi
IMG 20241219 WA0032

Siap Mati Demi Tanah Leluhur

Bagi ahli waris Ibrahim Hanta, tanah Keranga bukan sekadar aset, melainkan simbol identitas, sejarah, dan keberlanjutan hidup mereka.

Advertisement
PASANG IKLAN DISINI
Scroll kebawah untuk lihat konten

“Kami siap mati di tanah leluhur kami,” pernyataan Muhamad Rudini ini, yang mewakili puluhan turunan kakek mereka, menunjukkan betapa dalamnya luka yang ditinggalkan oleh konflik ini.

Tanah ini bukan hanya menjadi tempat mereka bertani, tetapi juga memiliki nilai budaya dan religius yang tak ternilai harganya. Kehilangan tanah ini berarti kehilangan warisan leluhur yang telah mereka jaga selama ini.

Tokoh Toleransi yang Tersingkirkan

Namun, yang paling menyakitkan dari kasus ini adalah pengabaian terhadap sejarah dan kontribusi almarhum Ibrahim Hanta. Beliau bukan hanya tokoh lokal, tetapi juga simbol toleransi di Manggarai Barat. Almarhum dikenal sebagai pendiri Masjid Agung di Kampung Waemata, sekaligus sebagai sosok yang menghibahkan tanah untuk pembangunan Gua Maria bagi umat Katolik.

Anaknya, Nadi Ibrahim, ayah kandung Muhamad Rudini, bahkan menyumbangkan keramik, bangku dan kayu bahan bangunan untuk mendirikan Kapela Katolik di Kampung Rangat, tak jauh dari kota Labuan Bajo.

Baca Juga :  Proyek Fatu Braon dan Pantai Teres: Simbol Kegagalan atau Cermin Kesengajaan?
  • Bagikan