Layanan Pertanahan Lawan Budaya Libur: Sertipikat Tetap Jalan

Kontributor : SN Editor: Redaksi
layanan-pertanahan-tetap-jalan
Layanan Pertanahan Lawan Budaya Libur: Sertipikat Tetap Jalan

Bagi masyarakat, urusan sertipikat bukan administrasi biasa. Sertipikat adalah bukti kepemilikan, jaminan kepastian hukum, sekaligus prasyarat akses ekonomi—dari kredit perbankan hingga investasi. Penundaan layanan, bahkan hanya beberapa hari, bisa berdampak panjang.

Karena itu, ketika layanan pertanahan tetap dibuka di hari libur, warga merespons dengan antusias. Pengurusan alih media sertipikat elektronik, roya, hingga konsultasi pertanahan tetap berjalan. Proses yang biasanya terhenti oleh kalender kini menemukan jalannya.

Fenomena ini sekaligus menelanjangi problem klasik birokrasi: jam layanan yang tidak sejalan dengan ritme hidup masyarakat. Selama bertahun-tahun, warga dipaksa menyesuaikan diri dengan negara. Kini, untuk pertama kalinya, negara tampak berusaha menyesuaikan diri dengan warga.

Layanan Pertanahan Lawan Budaya Libur, Melawan Budaya Libur

Meski patut diapresiasi, layanan di hari libur bukan tanpa risiko. Budaya libur dalam birokrasi bukan sekadar soal malas bekerja, melainkan soal sistem kerja yang rigid dan berorientasi jam kantor. Membuka layanan di hari libur tanpa perubahan struktural berpotensi menjadikan kebijakan ini sebagai pengecualian permanen—bukan norma baru.

Baca Juga :  Resmikan 264 Titik Air, KASAD Maruli Mengaku Ini Hasil Diskusi Brigjen Simon Petrus Kamlasi
  • Bagikan