Diskusi mengenai peran AI dalam jurnalisme sudah sering dibahas di berbagai seminar dan forum, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Namun, keraguan masih ada mengenai kemampuan AI dalam menyaring data dan informasi yang melimpah setiap hari. AI belum mampu memisahkan hoaks dari fakta secara meyakinkan.
Inilah yang membuat AI dianggap berlawanan dengan prinsip jurnalisme yang menekankan pada fakta, data, dan verifikasi sebelum informasi disampaikan sebagai berita. Selain itu, AI juga menjadi pesaing dalam dunia bisnis media.
Situasi ini tidak mengejutkan bagi SMSI, yang sudah ada sejak delapan tahun lalu, di tengah disrupsi teknologi dan transformasi sosial yang mengubah lanskap media massa.
Pada masa itu, banyak perusahaan media yang terpaksa gulung tikar, sebagian lainnya menutup usahanya, dan pekerja media seperti wartawan serta tenaga pendukung lainnya harus menghadapi pemutusan hubungan kerja.
Baca Juga : Pertandingan Persekota vs PS Malaka ditonton langsung Wali kota dan Wakil
Akibatnya, banyak tenaga kerja di bidang pers yang kehilangan pekerjaan, sementara yang bertahan harus menyesuaikan diri dengan cara kerja yang serba digital.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
