Dari sisi psikologi, Adam Alter menjelaskan bahwa media sosial dirancang untuk menciptakan kecanduan melalui sistem penghargaan instan. Notifikasi, “like”, dan video singkat memicu pelepasan dopamin di otak, sehingga pengguna cenderung mencari kesenangan cepat dibandingkan aktivitas yang membutuhkan usaha lebih besar, seperti belajar. Akibatnya, motivasi belajar menurun dan siswa lebih mudah terdistraksi.
Lebih jauh, algoritma juga mendorong perilaku prokrastinasi. Siswa yang awalnya hanya berniat membuka media sosial beberapa menit, sering kali terjebak berjam-jam karena konten yang terus disesuaikan dengan minat mereka. Waktu belajar pun tergerus, tugas tertunda, dan hasil akademik berpotensi menurun.
Dengan demikian, masalah utama bukan pada media sosial itu sendiri, melainkan pada algoritma yang tidak dirancang untuk kepentingan pendidikan, melainkan untuk mempertahankan perhatian pengguna. Jika tidak dikendalikan, peserta didik akan terus berada dalam lingkaran distraksi digital.
Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak. Sekolah perlu mengintegrasikan literasi digital dalam pembelajaran agar siswa mampu menggunakan teknologi secara bijak. Orang tua harus lebih aktif dalam mengawasi penggunaan media sosial anak. Sementara itu, siswa perlu dilatih untuk mengatur waktu, membangun disiplin diri, dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya fokus dalam belajar.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
