Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Ayo Bangun NTT: Antara Capaian Nyata dan Tantangan Struktural SDM

Kontributor : SN Editor: Redaksi
Screenshot 346

Stunting mencerminkan akumulasi persoalan: kemiskinan, rendahnya pendidikan orang tua, akses layanan kesehatan yang terbatas, hingga sanitasi yang buruk. Anak yang tumbuh dengan gizi kurang berisiko mengalami hambatan kognitif dan produktivitas rendah di masa dewasa. Dengan kata lain, stunting hari ini adalah beban ekonomi masa depan.

Ayo Bangun NTT Antara Pertumbuhan Ekonomi dan Paradox SDM

Capaian pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur pada 2025 layak dibaca sebagai sinyal awal bahwa arah kebijakan makro mulai menemukan pijakan. Namun, pertumbuhan yang tidak disertai peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menyimpan kerentanan serius. Dalam kondisi seperti ini, ekonomi dapat tumbuh bukan karena meningkatnya produktivitas tenaga kerja lokal, melainkan akibat faktor eksternal yang bersifat sementara—seperti belanja pemerintah, proyek infrastruktur, atau fluktuasi harga komoditas.

Pertumbuhan semacam itu ibarat bangunan tanpa fondasi kuat. Ia tampak kokoh dalam jangka pendek, tetapi mudah goyah ketika stimulus berkurang atau tekanan eksternal berubah. Tanpa investasi berkelanjutan pada pendidikan, kesehatan, dan keterampilan kerja, pertumbuhan ekonomi kehilangan daya tahan dan kapasitas untuk menciptakan kesejahteraan yang merata.

Di sinilah paradoks pembangunan NTT menjadi nyata. Ketika ekonomi melaju, tetapi kualitas SDM tertinggal, nilai tambah cenderung terkonsentrasi pada kelompok yang telah memiliki modal, akses, dan keterampilan. Sementara itu, mayoritas masyarakat—petani kecil, nelayan tradisional, dan pekerja informal—tetap berada di lingkaran pekerjaan berproduktivitas rendah. Alih-alih menjadi motor pertumbuhan, mereka justru menjadi penonton dari proses pembangunan.

Paradoks ini menegaskan bahwa pertumbuhan tanpa transformasi manusia bukanlah solusi, melainkan penundaan masalah. Tanpa keberanian menempatkan penguatan SDM sebagai prioritas utama, Ayo Bangun NTT berisiko menghasilkan kemajuan statistik yang impresif, tetapi gagal menghadirkan perubahan substantif dalam kualitas hidup masyarakat.

Baca Juga :  Ekologi Sosial dan Tanggung Jawab Korporasi: Refleksi atas Gerakan Hijau Perumda Air Minum Kabupaten Kupang

Ayo Bangun NTT memuat berbagai program penguatan ekonomi dan desa. Namun, kebijakan pengembangan SDM masih menghadapi persoalan klasik: fragmentasi. Pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan perlindungan sosial kerap berjalan dalam logika sektoral. Akibatnya, intervensi yang dilakukan tidak saling menguatkan.

  • Bagikan