Salah satu tantangan yang semakin nyata adalah penggunaan telepon genggam yang tidak terkendali. Gim daring, media sosial, dan berbagai hiburan digital membuat sebagian murid tidur larut malam. Akibatnya, waktu istirahat berkurang, tubuh kelelahan, sulit bangun pagi, dan akhirnya terlambat ke sekolah. Jika kebiasaan ini terus dibiarkan, persoalannya bukan lagi sekadar gawai, tetapi tentang kemampuan anak mengendalikan dirinya.
Di sinilah peran orang tua menjadi sangat penting. Rumah adalah sekolah pertama bagi seorang anak. Orang tua perlu hadir bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan anak, tetapi juga membangun kebiasaan dan batas yang sehat. Mengatur penggunaan gawai, memastikan anak tidur cukup, menyiapkan perlengkapan sekolah sejak malam, serta membangun kebiasaan bangun pagi merupakan bentuk cinta yang sering kali sederhana, tetapi sangat menentukan.
Membatasi penggunaan telepon genggam bukan berarti merampas kebebasan anak. Justru melalui batas itulah anak belajar bahwa tidak semua keinginan harus diikuti. Anak perlu memahami bahwa kesenangan malam ini tidak boleh mengorbankan tanggung jawab esok pagi.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








