Awalnya, ia hanya diam. Namun, perlahan-lahan, dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ia akhirnya menceritakan pergumulan hidup yang sedang dihadapinya.
Ternyata, di balik perilakunya yang selama ini saya anggap sebagai kemalasan, tersimpan persoalan kehidupan yang tidak sederhana. Ia sedang menghadapi situasi keluarga yang sulit dan harus memikul tanggung jawab yang cukup besar untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup.
Dalam keadaan tersebut, ia juga harus bekerja sebagai buruh bangunan. Pekerjaan itu membuatnya kelelahan sehingga terkadang ia tidak mampu mengikuti kegiatan belajar dengan baik.
Saat mendengar ceritanya, hati saya tersentuh. Saya mulai memahami bahwa anak yang selama ini saya anggap malas ternyata sedang berjuang menghadapi persoalan hidup yang mungkin belum mampu ia tanggung sepenuhnya pada usianya yang masih muda.
Saya pun meminta maaf atas berbagai tindakan dan teguran yang selama ini mungkin membuatnya merasa tidak dipahami.
Saya menyadari bahwa selama ini saya lebih banyak melihat ketidakhadirannya daripada memahami alasan di balik ketidakhadiran itu. Saya lebih sering menilai perilakunya daripada mendengarkan pergumulannya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








