Namun, pendidikan di sekolah tidak berlangsung dalam ruang hampa. Nilai-nilai yang diajarkan guru akan berhadapan dengan realitas di luar sekolah, termasuk lingkungan pergaulan, kebiasaan masyarakat, keteladanan orang dewasa, dan kemudahan memperoleh miras. Ketika lingkungan sosial justru menormalisasi perilaku yang berisiko, upaya pendidikan dapat menghadapi tantangan yang jauh lebih berat.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya mengapa pelajar mengonsumsi miras, melainkan juga apa yang membuat mereka rentan terhadap perilaku tersebut.
Penyebabnya tentu tidak tunggal. Lemahnya komunikasi dalam keluarga, tekanan teman sebaya, kurangnya kegiatan positif, keterbatasan ruang berekspresi, serta akses terhadap miras dapat menjadi bagian dari persoalan. Sebagian remaja mungkin terdorong untuk mencoba karena ingin diterima dalam kelompok pergaulan. Sebagian lainnya mungkin menghadapi persoalan pribadi yang tidak mampu mereka ungkapkan kepada orang tua atau orang dewasa yang dipercaya.
Kondisi ini mengingatkan kita bahwa anak-anak muda membutuhkan lebih dari sekadar larangan. Mereka membutuhkan perhatian, pendampingan, teladan, serta lingkungan yang membantu mereka memahami pilihan hidup dan konsekuensinya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
