Saat kegiatan berlangsung, banyak peserta didik terkejut ketika mengetahui bahwa seseorang dapat menempuh jarak tertentu tetapi memiliki perpindahan nol karena kembali ke titik awal. Konsep yang sebelumnya hanya menjadi definisi dalam buku pelajaran berubah menjadi pengalaman nyata yang mudah dipahami.
Tahap kedua adalah Memahami. Setelah peserta didik memperoleh pengalaman langsung, barulah konsep dan rumus diperkenalkan. Namun, rumus tidak disajikan sebagai sesuatu yang harus dihafal. Sebaliknya, rumus dibangun melalui cerita dan diskusi yang dekat dengan kehidupan mereka.
Sebagai contoh, ketika membahas GLBB, saya menggunakan ilustrasi sederhana tentang sebuah sepeda motor yang bergerak dari keadaan diam hingga mencapai kecepatan tertentu dalam waktu tertentu. Dari cerita tersebut, peserta didik diajak menurunkan persamaan secara bertahap sehingga mereka memahami asal-usul rumus, bukan sekadar menghafalnya.
Tahap ketiga adalah Mengaplikasi. Keterbatasan laboratorium tidak menjadi alasan untuk menghentikan kegiatan praktikum. Berbagai alat sederhana di sekitar sekolah dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Telepon genggam digunakan untuk melakukan pengukuran sederhana melalui aplikasi pendukung pembelajaran sains. Kertas HVS dilipat menjadi pesawat kertas untuk mengamati gerak parabola. Berbagai percobaan sederhana tersebut membuat setiap peserta didik memiliki kesempatan untuk mencoba, mengamati, dan menarik kesimpulan secara mandiri.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









