Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Menakhodai Sekolah di Ujung Negeri: Merawat Harapan di Tengah Keterbatasan

Kontributor : Bynerd Toy Editor: Redaksi
20c0cfe1 1cbb 4670 b297 85a4ce4cd3c5

Setiap pagi tepat pukul 07.00 WITA, suara bel sekolah terdengar menggema. Bel itu bukanlah perangkat elektronik modern, melainkan velg sepeda motor yang dipukul menggunakan potongan besi tua. Sederhana, tetapi penuh makna. Para siswa segera berbaris dengan tertib untuk mengikuti apel pagi. Di hadapan mereka, saya selalu teringat bahwa setiap langkah perjuangan yang dilakukan bukan sekadar untuk membangun sebuah sekolah, melainkan untuk membangun masa depan.

Bagi saya, menjadi kepala sekolah di daerah pedalaman bukan sekadar profesi. Ini adalah panggilan hati dan bentuk pengabdian kepada bangsa. Pendidikan adalah cahaya yang mampu menerangi wilayah-wilayah yang selama ini berada di pinggiran pembangunan. Melalui pendidikan, anak-anak di pedalaman dapat bermimpi lebih tinggi dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Kedepannya, saya berharap pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pemerataan pembangunan infrastruktur pendidikan. Jalan menuju Matpunu perlu diperbaiki, jembatan perlu dibangun untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang terisolasi, serta layanan listrik dan telekomunikasi perlu diperluas hingga menjangkau Maonana dan Nefolila.

Baca Juga :  Ketika Matematika Tak Lagi Menakutkan: Pengalaman Mengajar di Sekolah 3T
  • Bagikan