Setiap pagi tepat pukul 07.00 WITA, suara bel sekolah terdengar menggema. Bel itu bukanlah perangkat elektronik modern, melainkan velg sepeda motor yang dipukul menggunakan potongan besi tua. Sederhana, tetapi penuh makna. Para siswa segera berbaris dengan tertib untuk mengikuti apel pagi. Di hadapan mereka, saya selalu teringat bahwa setiap langkah perjuangan yang dilakukan bukan sekadar untuk membangun sebuah sekolah, melainkan untuk membangun masa depan.
Bagi saya, menjadi kepala sekolah di daerah pedalaman bukan sekadar profesi. Ini adalah panggilan hati dan bentuk pengabdian kepada bangsa. Pendidikan adalah cahaya yang mampu menerangi wilayah-wilayah yang selama ini berada di pinggiran pembangunan. Melalui pendidikan, anak-anak di pedalaman dapat bermimpi lebih tinggi dan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Kedepannya, saya berharap pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pemerataan pembangunan infrastruktur pendidikan. Jalan menuju Matpunu perlu diperbaiki, jembatan perlu dibangun untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang terisolasi, serta layanan listrik dan telekomunikasi perlu diperluas hingga menjangkau Maonana dan Nefolila.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









