Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Menakhodai Sekolah di Ujung Negeri: Merawat Harapan di Tengah Keterbatasan

Kontributor : Bynerd Toy Editor: Redaksi
20c0cfe1 1cbb 4670 b297 85a4ce4cd3c5

Siswa dilibatkan dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti Tarian Perang (Giring-Giring) dan Tarian Biola yang sering ditampilkan dalam berbagai acara penyambutan tamu. Selain itu, siswa perempuan didorong untuk mengembangkan keterampilan menenun, sementara siswa laki-laki belajar membuat piring lidi. Sekolah juga mengembangkan program Green School melalui penanaman tanaman hias, pisang, sayuran, dan berbagai jenis umbi-umbian.

Melalui program-program tersebut, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, keterampilan hidup, serta kecintaan terhadap budaya lokal. Sekolah hadir sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang mampu menyiapkan generasi muda untuk menghadapi masa depan tanpa kehilangan identitas budayanya.

Menariknya, meskipun berada di daerah terpencil, SMA Negeri Matpunu telah melaksanakan ujian berbasis komputer dan Android. Para guru memanfaatkan laptop dan proyektor dalam proses pembelajaran. Sebagai kepala sekolah, saya tidak hanya menjalankan fungsi manajerial, tetapi juga pernah merangkap sebagai bendahara BOSP dan operator sekolah. Kondisi tersebut menuntut kemampuan beradaptasi dan kesediaan untuk bekerja melampaui tugas pokok yang ada.

Baca Juga :  Alarm Dunia Kerja! Skill Mismatch Hantui Fresh Graduate di Era Digital, BK Karier Jadi Kunci Solusi
  • Bagikan