Siswa dilibatkan dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti Tarian Perang (Giring-Giring) dan Tarian Biola yang sering ditampilkan dalam berbagai acara penyambutan tamu. Selain itu, siswa perempuan didorong untuk mengembangkan keterampilan menenun, sementara siswa laki-laki belajar membuat piring lidi. Sekolah juga mengembangkan program Green School melalui penanaman tanaman hias, pisang, sayuran, dan berbagai jenis umbi-umbian.
Melalui program-program tersebut, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter, keterampilan hidup, serta kecintaan terhadap budaya lokal. Sekolah hadir sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang mampu menyiapkan generasi muda untuk menghadapi masa depan tanpa kehilangan identitas budayanya.
Menariknya, meskipun berada di daerah terpencil, SMA Negeri Matpunu telah melaksanakan ujian berbasis komputer dan Android. Para guru memanfaatkan laptop dan proyektor dalam proses pembelajaran. Sebagai kepala sekolah, saya tidak hanya menjalankan fungsi manajerial, tetapi juga pernah merangkap sebagai bendahara BOSP dan operator sekolah. Kondisi tersebut menuntut kemampuan beradaptasi dan kesediaan untuk bekerja melampaui tugas pokok yang ada.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









