Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Menakhodai Sekolah di Ujung Negeri: Merawat Harapan di Tengah Keterbatasan

Kontributor : Bynerd Toy Editor: Redaksi
20c0cfe1 1cbb 4670 b297 85a4ce4cd3c5

Demi memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan, kami membangun gedung darurat yang terdiri atas dua ruang kelas, satu ruang guru, dan sebuah toilet sederhana. Bangunan tersebut berlantai tanah, berdinding pelepah bambu, dan beratapkan seng bekas. Meja dan kursi belajar berasal dari sumbangan masyarakat Desa Taneotob dan Desa Noebesi. Untuk kebutuhan administrasi sekolah, kami meminjam aliran listrik dari rumah warga sekitar. Bahkan untuk memperoleh sinyal telepon dan internet, kami sering harus memanjat pohon atau berjalan ke lokasi tertentu yang memiliki jaringan.

Di tengah segala keterbatasan itu, semangat para guru tidak pernah surut. Kami percaya bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh megahnya gedung sekolah, tetapi juga oleh ketulusan hati para pendidik yang hadir untuk melayani. Dengan komitmen dan dedikasi, kami berusaha memastikan bahwa setiap anak tetap memperoleh haknya untuk belajar.

Perjuangan tersebut tidak hanya dirasakan oleh para guru. Para siswa juga menghadapi tantangan yang luar biasa. Sebagian besar peserta didik berasal dari Dusun Maonana di Desa Taneotob dan Dusun Nefolila di Desa Noebesi. Mereka harus berjalan kaki selama kurang lebih dua jam setiap hari untuk mencapai sekolah. Selain membawa buku dan perlengkapan belajar, mereka juga membawa bekal sederhana untuk makan siang.

Baca Juga :  MENJAGA MUTU DI TENGAH MEMBLUDAKNYA MINAT KE SD GMIT SOE II
  • Bagikan