Demi memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan, kami membangun gedung darurat yang terdiri atas dua ruang kelas, satu ruang guru, dan sebuah toilet sederhana. Bangunan tersebut berlantai tanah, berdinding pelepah bambu, dan beratapkan seng bekas. Meja dan kursi belajar berasal dari sumbangan masyarakat Desa Taneotob dan Desa Noebesi. Untuk kebutuhan administrasi sekolah, kami meminjam aliran listrik dari rumah warga sekitar. Bahkan untuk memperoleh sinyal telepon dan internet, kami sering harus memanjat pohon atau berjalan ke lokasi tertentu yang memiliki jaringan.
Di tengah segala keterbatasan itu, semangat para guru tidak pernah surut. Kami percaya bahwa kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh megahnya gedung sekolah, tetapi juga oleh ketulusan hati para pendidik yang hadir untuk melayani. Dengan komitmen dan dedikasi, kami berusaha memastikan bahwa setiap anak tetap memperoleh haknya untuk belajar.
Perjuangan tersebut tidak hanya dirasakan oleh para guru. Para siswa juga menghadapi tantangan yang luar biasa. Sebagian besar peserta didik berasal dari Dusun Maonana di Desa Taneotob dan Dusun Nefolila di Desa Noebesi. Mereka harus berjalan kaki selama kurang lebih dua jam setiap hari untuk mencapai sekolah. Selain membawa buku dan perlengkapan belajar, mereka juga membawa bekal sederhana untuk makan siang.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









