Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Menghidupkan Kelas Seni Budaya: Saat Tari Menjadi Jembatan, Bukan Beban

IMG 20260207 072327

Oleh: Diana D. A. Bia, S.Pd. (Guru Seni Budaya SMA Negeri Sabun, TTS)

SNC – Tidak semua pelajaran langsung disambut antusias oleh siswa. Saya merasakan itu ketika mengajar Seni Budaya di SMA Negeri Sabun, Kecamatan Boking, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Di sekolah yang sederhana inilah saya belajar bahwa mengajarkan seni bukan hanya soal materi, tetapi tentang bagaimana membuat siswa merasa bahwa apa yang mereka pelajari dekat dengan diri mereka. Sekolah ini mungkin sederhana dalam fasilitas, tetapi tidak dalam semangat. Sejak 2021, saya memilih mengabdi di sini, sebuah keputusan yang lahir dari cinta pada profesi guru dan pada anak-anak yang mempercayakan masa depan mereka pada pendidikan.

Advertisement
PASANG IKLAN DISINI
Scroll kebawah untuk lihat konten

Latar belakang pendidikan saya sebenarnya adalah Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti. Namun di sekolah ini, saya dipercaya mengampu mata pelajaran Seni Budaya. Kepercayaan itu saya terima dengan sepenuh hati, karena dunia seni, terutama musik dan tarik suara selalu menjadi bagian dari diri saya. Dari kelas X hingga XII, ruang kelas seni budaya menjadi ruang belajar, ruang ekspresi, sekaligus ruang pergulatan.

Baca Juga :  Cifor - Icraf Indonesia dan Pemda TTS Bersatu, Serukan Peran Ayah dalam Meningkatkan Layanan Kesehatan Masyarakat
  • Bagikan