Aku menatap wajahnya yang tenang. Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa menemukan jawaban.
Bahwa rindu bukan sekadar ingin bertemu. Ia adalah keberanian untuk tetap merasa, meski tak selalu dihargai.
Fajar mulai menyentuh ufuk. Kapal perlahan mendekati pelabuhan tujuan. Suara aktivitas kembali terdengar, memecah sunyi yang semalam kami bagi.
Aku terbangun dari lamunan.
Ayu sudah tidak ada.
Tak ada pesan. Tak ada jejak. Hanya sisa hangat yang perlahan hilang di pangkuanku.
Aku tersenyum tipis.
Barangkali, beberapa pertemuan memang tidak ditakdirkan untuk selesai. Mereka hanya datang, memberi arti, lalu pergi, menyisakan tanya yang akan terus hidup, bahkan setelah rindu itu sendiri usai.
Dan pagi itu, aku akhirnya mengerti.
Aku tidak pernah benar-benar gagal menjawab pertanyaannya.
Aku hanya terlambat menyadarinya.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








