Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Sepenggal Rindu di Buritan

Kontributor : Y.N Editor: Redaksi
36b00642 57b8 4be3 91c9 48bfd4d38baa

Aku menatap wajahnya yang tenang. Untuk pertama kalinya malam itu, aku merasa menemukan jawaban.

Bahwa rindu bukan sekadar ingin bertemu. Ia adalah keberanian untuk tetap merasa, meski tak selalu dihargai.

Advertisement
PASANG IKLAN DISINI
Scroll kebawah untuk lihat konten

Fajar mulai menyentuh ufuk. Kapal perlahan mendekati pelabuhan tujuan. Suara aktivitas kembali terdengar, memecah sunyi yang semalam kami bagi.

Aku terbangun dari lamunan.

Ayu sudah tidak ada.

Tak ada pesan. Tak ada jejak. Hanya sisa hangat yang perlahan hilang di pangkuanku.

Aku tersenyum tipis.

Barangkali, beberapa pertemuan memang tidak ditakdirkan untuk selesai. Mereka hanya datang, memberi arti, lalu pergi, menyisakan tanya yang akan terus hidup, bahkan setelah rindu itu sendiri usai.

Dan pagi itu, aku akhirnya mengerti.

Aku tidak pernah benar-benar gagal menjawab pertanyaannya.

Aku hanya terlambat menyadarinya.

Baca Juga :  Nelayan Kita dan Pertanian Kita
  • Bagikan