Pertanyaan tersebut mengubah posisi guru. Guru bukan hanya penyampai materi, tetapi juga pengamat, pendamping, dan pencari jalan ketika anak mengalami kesulitan.
Saya belajar bahwa terkadang guru tidak membutuhkan media yang mahal untuk membuat perubahan.
Yang dibutuhkan adalah kemauan untuk memperhatikan, kesabaran untuk mengulang, keberanian untuk mengubah strategi, dan keyakinan bahwa setiap anak dapat berkembang.
Abjad yang Menjadi Jalan Menuju Mimpi
Kini, bagi ketujuh murid tersebut, abjad perlahan tidak lagi menjadi kumpulan simbol yang membingungkan. Abjad telah menjadi teman baru. Dari huruf, mereka akan mengenal kata. Dari kata, mereka akan menemukan kalimat. Dari kalimat, mereka akan menemukan cerita. Dari cerita, mereka akan menemukan pengetahuan. Dan dari pengetahuan, mungkin suatu hari nanti mereka akan menemukan jalan menuju cita-cita.
Sebagai guru, saya akhirnya memahami bahwa mengajarkan A sampai Z bukan sekadar membuat anak hafal 26 huruf. Lebih dari itu, saya sedang membantu mereka membuka sebuah pintu. Pintu menuju dunia membaca. Pintu menuju pengetahuan. Dan mungkin, pintu menuju masa depan yang hari ini belum dapat mereka bayangkan.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








