Ketika Huruf Terasa Menakutkan
Pada awal pembelajaran, ketujuh murid tersebut sebenarnya adalah anak-anak yang ceria. Mereka senang bermain dan menggambar. Namun, ketika teman-temannya mulai mengeja suku kata, mereka hanya memandang papan tulis dengan wajah bingung.
Beberapa huruf tampak begitu sulit bagi mereka. Huruf “b, d, p, dan q,” misalnya, sering tertukar. Ketika saya meminta mereka menyebutkan sebuah huruf, mereka tampak ragu-ragu. Kesalahan yang berulang perlahan membuat mereka enggan mencoba.
Saya melihat perubahan itu bukan hanya pada kemampuan akademik, tetapi juga pada keberanian mereka. Anak-anak yang semula aktif mulai menjadi lebih pendiam. Mereka memilih diam ketika guru bertanya karena takut salah.
Di titik itulah saya menyadari bahwa persoalannya bukan sekadar bagaimana membuat mereka mengenal abjad. Ada sesuatu yang jauh lebih penting: bagaimana membuat mereka kembali percaya bahwa mereka mampu belajar.
Saya pun mulai bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan yang perlu diubah bukan anaknya, melainkan cara saya mengajarnya?
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








