Tahap berikutnya adalah meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.
Alih-alih menjual gabah secara individual dalam bentuk bahan mentah, petani didorong membangun pola pengolahan dan pemasaran bersama. Gabah dapat diolah menjadi beras dengan kualitas dan kemasan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Skema tersebut diproyeksikan dapat meningkatkan keuntungan bersih petani hingga sekitar Rp12 juta per hektare per musim tanam.
Ketua Tim PkM Undana, Megi Octaviana Radji, menilai kawasan persawahan Oesao memiliki posisi penting dalam menopang kebutuhan pangan daerah.
“Persawahan Oesao merupakan salah satu lumbung pangan utama. Tanpa perlindungan hukum yang kuat, ketahanan pangan dan keberlanjutan ekonomi para petani akan terancam oleh alih fungsi lahan,” ujarnya.
Kegiatan yang dimoderatori Norani Asnawi, S.H., M.H. itu ditutup dengan diskusi dan penandatanganan komitmen bersama antara kelompok tani, Penyuluh Pertanian Lapangan, Pemerintah Desa Manusak, dan Tim PkM Undana.
Komitmen tersebut mencakup lima langkah praktis, antara lain pengaturan jadwal tanam serentak, penguatan pola budidaya, peningkatan efisiensi usaha tani, pendampingan panen, hingga pemasaran hasil secara bersama menjelang musim panen 2026.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
