Masalah sosial juga sering kali memiliki banyak dimensi sehingga tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu jawaban yang dihasilkan mesin.
Karena itu, mahasiswa sosiologi dituntut mampu menggunakan AI secara kritis.
Teknologi dapat membantu pengolahan data dan pencarian informasi, tetapi keputusan mengenai bagaimana sebuah persoalan sosial dipahami dan diselesaikan tetap membutuhkan pertimbangan manusia.
Dalam konteks tersebut, pendidikan sosiologi memiliki peran untuk memastikan perkembangan teknologi tetap berada dalam koridor etika dan keadilan sosial.
Sekretaris Umum Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI), Dr. Idham Irwansyah Idrus, S.Sos., M.Pd., mengatakan perubahan teknologi harus diikuti dengan perubahan orientasi pembelajaran.
Menurut Idham, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis dalam menggunakan AI.
“Kurikulum OBE yang humanis tidak hanya mengajarkan *how to use AI*, tetapi *how to critique AI*,” ungkapnya.
Karena itu, penerapan *Outcome-Based Education* atau OBE perlu mengarahkan mahasiswa pada capaian pembelajaran yang terukur.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
