Literasi data, analisis kritis, kemampuan memecahkan masalah, rekayasa sosial, serta prinsip etis menjadi kompetensi yang perlu diperkuat.
Dengan pendekatan tersebut, AI tidak diposisikan sebagai pengganti mahasiswa maupun dosen.
Teknologi digunakan sebagai alat yang membantu proses belajar, sementara kemampuan manusia dalam memberikan makna, menilai risiko, dan mengambil keputusan tetap menjadi pusat pembelajaran.
Dekan FISIP Undana, Prof. Dr. William Djani, M.Si., mengatakan AI telah berkembang dari sekadar alat menjadi mitra berpikir.
Perubahan tersebut harus dijawab dengan sistem pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan adaptif tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.
“Kita hidup di era di mana AI tidak lagi sekadar alat, tetapi sudah menjadi mitra berpikir,” ujar William.
Menurut dia, pembelajaran berbasis outcome memastikan pendidikan tidak berhenti pada pertanyaan mengenai berapa banyak materi yang telah disampaikan.
Fokusnya adalah apa yang mampu dilakukan mahasiswa setelah menyelesaikan proses pembelajaran.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
