Mereka diberi kesempatan membaca sesuai kemampuan, berlatih menulis, memahami bacaan, dan mendapatkan bantuan ketika menemui kesulitan.
Bagi saya, pendampingan semacam ini penting karena murid yang mengalami kesulitan membaca tidak boleh terus-menerus merasa tertinggal.
Mereka membutuhkan guru yang bersedia berkata, “Mari kita coba lagi.” Bukan, “Mengapa kamu belum bisa?”
Perbedaan kalimat tersebut mungkin sederhana, tetapi bagi seorang anak, dukungan guru dapat menentukan apakah ia akan kembali mencoba atau justru menyerah.
Lalu, Apa yang Berubah?
Setelah strategi tersebut diterapkan secara bertahap, saya mulai melihat perubahan di kelas. Perubahan pertama bukan langsung berupa nilai. Perubahan pertama adalah keberanian.
Murid yang sebelumnya cenderung diam mulai berani bertanya. Mereka mulai berani menyampaikan pendapat dalam kelompok. Sebagian mulai tidak ragu menjawab pertanyaan meskipun jawabannya belum tentu sempurna. Bagi saya, keberanian tersebut merupakan capaian penting. Sebab, seorang anak tidak akan berkembang jika ia takut salah.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








