Kondisi ini menjadi refleksi sekaligus peluang. Apa yang dilakukan dua sekolah ini menunjukkan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari fasilitas yang lengkap, tetapi dari keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk melangkah.
Penggerak literasi daerah (Nyalanesia), Kabupaten Timor Tengah Selatan, Lefinus Asbanu, S.Pd., menilai capaian ini harus menjadi momentum bersama.
Menurutnya, dari sekitar 545 sekolah dasar di TTS, potensi besar masih belum tergarap secara optimal, khususnya dalam penguatan literasi menulis.
“Menulis adalah pintu masuk untuk meningkatkan kemampuan membaca dan berpikir siswa. Dari tulisan, kita bisa melihat bagaimana anak memahami, mengolah, dan menyampaikan gagasan,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti pada satu atau dua sekolah saja. Dibutuhkan keterlibatan lebih luas agar budaya literasi benar-benar hidup di ruang-ruang kelas.
Ke depan, Citra dan Fransina dijadwalkan menerima penganugerahan dalam Festival Literasi Nasional yang akan digelar di Surakarta pada 22–23 Mei 2026. Sebuah panggung yang lebih luas menanti, namun bagi mereka, kemenangan sejati telah dimulai sejak hari pertama mereka berani menulis.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
