Sebagai kepala sekolah, Jemrif menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan tersebut. Ia berharap gerakan ini tidak hanya menghasilkan kumpulan esai, tetapi juga melahirkan budaya refleksi, budaya membaca, dan budaya menulis di lingkungan pendidikan.
“Saya mendukung penuh terobosan ini. Kita harus jujur bahwa budaya membaca dan menulis di Kabupaten Timor Tengah Selatan, termasuk di kalangan guru, masih tergolong langka. Karena itu, gerakan yang diinisiasi Bapak Kadis ini menjadi momentum penting untuk membangun tradisi intelektual di sekolah. Jika kepala sekolah mulai membaca dan menulis, saya yakin budaya yang sama akan menular kepada guru dan peserta didik,” tegasnya.
Menurut Jemrif, keberhasilan peningkatan mutu pendidikan tidak hanya ditentukan oleh program dan anggaran, tetapi juga oleh kemampuan para pemimpin sekolah dalam membaca persoalan, mengolah data, melakukan refleksi, dan menyusun gagasan perubahan yang dapat diwujudkan secara nyata.
Gerakan Menulis Esai Kepala Sekolah ini diharapkan mampu menghasilkan berbagai rekomendasi dan solusi kontekstual yang lahir dari pengalaman nyata para kepala sekolah di lapangan. Hasil-hasil pemikiran tersebut nantinya dapat menjadi bahan penting bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten TTS dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang lebih tepat sasaran.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









