Bagi para guru, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat peran pendidik dalam menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendamping yang membantu murid menemukan dan mengembangkan kemampuan terbaiknya.
Dua hari kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk kembali meneguhkan bahwa literasi harus dirawat melalui praktik nyata, bukan hanya melalui ajakan atau imbauan.
Di tengah rutinitas pembelajaran, kehadiran kegiatan IHT memberikan pengalaman berbeda. Murid mendapatkan ruang untuk belajar, mencoba, dan mengembangkan gagasan, sementara guru memperoleh kesempatan untuk memperkuat komitmen dalam mendampingi proses kreatif peserta didik.
Lebih dari sekadar kegiatan pelatihan, pendampingan ini menjadi pesan bahwa potensi anak-anak tidak boleh dibiarkan tersembunyi hanya karena mereka belum terbiasa menulis. Mereka membutuhkan orang-orang yang percaya pada kemampuan mereka, lingkungan yang mendukung, serta kesempatan untuk terus berproses.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
