Pendidik Disorot: Kontributor Kemiskinan Di NTT?

Kontributor : SN Editor: Redaksi
pendidik-disorot-kontributor-kemiskinan-di-ntt
Dr. Edwer Dethan Narasumber utama Workshop STAKRI–ELPIDA Menggugat Peran Guru dan Dunia Pendidikan di Kupang (30/1)

Dalam perspektif ini, pengintegrasian pengetahuan, keterampilan, dan karakter menjadi keharusan. Kristus ditempatkan sebagai pusat pendidikan, bukan dalam arti dogmatis sempit, melainkan sebagai sumber nilai yang menjiwai proses belajar-mengajar (Kolose 2:6–7; Yohanes 15:4–5).

Pernyataan Dr. Edwer bahwa pendidik Kristen yang mengajarkan sains tanpa mengintegrasikan nilai Alkitab “ikut menyumbang kemiskinan di NTT” memang terdengar provokatif. Namun, secara akademik, pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai kritik atas pendidikan yang terfragmentasi—yang memisahkan ilmu dari etika, pengetahuan dari tanggung jawab sosial, dan kecerdasan dari kebijaksanaan.

Sekolah sebagai Mesin Transformasi

Gagasan ini diperkuat oleh Dr. Fichtor Missa melalui pernyataannya yang menggugah: “School is not a scam—school is a transformation machine!” Pernyataan ini menyasar praktik pendidikan yang terjebak dalam rutinitas administratif, kepatuhan prosedural, dan target kuantitatif semata.

Dalam konteks NTT, sekolah sering kali menjadi ruang reproduksi ketimpangan: kurikulum yang tidak kontekstual, metode pengajaran yang tidak membebaskan, serta kebijakan yang kurang berpihak pada realitas daerah tertinggal. Akibatnya, pendidikan gagal menjadi alat mobilitas sosial yang efektif.

  • Bagikan
Exit mobile version