Dalam perspektif ini, pengintegrasian pengetahuan, keterampilan, dan karakter menjadi keharusan. Kristus ditempatkan sebagai pusat pendidikan, bukan dalam arti dogmatis sempit, melainkan sebagai sumber nilai yang menjiwai proses belajar-mengajar (Kolose 2:6–7; Yohanes 15:4–5).
Pernyataan Dr. Edwer bahwa pendidik Kristen yang mengajarkan sains tanpa mengintegrasikan nilai Alkitab “ikut menyumbang kemiskinan di NTT” memang terdengar provokatif. Namun, secara akademik, pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai kritik atas pendidikan yang terfragmentasi—yang memisahkan ilmu dari etika, pengetahuan dari tanggung jawab sosial, dan kecerdasan dari kebijaksanaan.
Sekolah sebagai Mesin Transformasi
Gagasan ini diperkuat oleh Dr. Fichtor Missa melalui pernyataannya yang menggugah: “School is not a scam—school is a transformation machine!” Pernyataan ini menyasar praktik pendidikan yang terjebak dalam rutinitas administratif, kepatuhan prosedural, dan target kuantitatif semata.
Dalam konteks NTT, sekolah sering kali menjadi ruang reproduksi ketimpangan: kurikulum yang tidak kontekstual, metode pengajaran yang tidak membebaskan, serta kebijakan yang kurang berpihak pada realitas daerah tertinggal. Akibatnya, pendidikan gagal menjadi alat mobilitas sosial yang efektif.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
