Dalam skema yang diterapkan, mahasiswa HMP Teknik Sipil tidak hanya menjadi peserta pembelajaran pasif. Mereka diberi tanggung jawab sebagai perancang desain bangunan sekaligus supervisor lapangan. Tugas mereka adalah memastikan pekerjaan konstruksi berjalan sesuai standar teknis, mulai dari pengukuran, pengawasan mutu, hingga evaluasi hasil pekerjaan.
Sementara itu, para pengungsi internasional yang menjadi peserta program menjalankan pekerjaan konstruksi secara langsung setelah sebelumnya mengikuti pelatihan teori selama dua minggu.
Model tersebut menjadi bagian dari program On Job Training (OJT) yang dirancang untuk menguji sejauh mana materi pelatihan yang diterima para peserta dapat diterapkan dalam kondisi kerja nyata.
Kepala Laboratorium Prodi Teknik Sipil Undana, Prof. Dr. Ir. Denik S. Krisnayanti, S.T., M.T., menjelaskan bahwa proyek tersebut tidak hanya berorientasi pada pembangunan infrastruktur kampus, tetapi juga menjadi sarana evaluasi kemampuan teknis peserta pelatihan.
“Kami ingin melihat apakah materi yang diberikan selama dua minggu dapat diterapkan secara presisi pada pekerjaan konstruksi sesungguhnya. Karena itu mahasiswa berperan mengawasi sekaligus memastikan standar pekerjaan tetap terjaga,” ujar Prof. Denik.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
