Panen Raya di Babau kali ini menjadi panggung nyata bagi kepemimpinan yang hadir secara fisik dan emosional. Bukan sekadar membagikan bantuan atau berbicara soal program, tetapi memperlihatkan bahwa mendengarkan rakyat adalah inti dari melayani.
Aurum, yang merupakan putri dari mantan Bupati Kupang dua periode, Ayub Titu Eki, membuktikan bahwa warisan nilai kepemimpinan bisa diteruskan dengan gaya baru: lebih merakyat, lebih empatik, dan lebih membumi.
Di tengah tekanan modernisasi dan tantangan pertanian, tindakan kecil seperti ini memberi efek besar: menghidupkan kembali harapan petani bahwa mereka tidak dilupakan.
Tak hanya menjadi pemimpin administratif, Aurum menunjukkan dirinya sebagai bagian dari komunitas—pemimpin yang mau menoleh ke belakang, menyentuh akar, dan hadir dalam kesunyian perjuangan petani.
Di tengah lumpur sawah, pemimpin dan rakyat tidak lagi dipisahkan oleh protokol dan kursi empuk. Mereka duduk setara— di bawah langit yang sama, dengan cita-cita yang sama: membangun daerah dari bawah, bersama mereka yang paling tahu arti kerja keras.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.








