Tradisi ini rutin dilaksanakan oleh masyarakat Semau Helong dan kini telah menjadi bagian dari identitas kultural Kabupaten Kupang.
Ketua Majelis Klasis Semau, Pdt. Doni Banik, dalam pesannya mengajak seluruh jemaat memaknai tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebagai “alat Tuhan untuk menyatukan umat”.
“Ada banyak kekayaan nilai dari HOPONG NGAE yang bisa menumbuhkan iman. Ini bukan hanya tradisi panen, tetapi juga momentum untuk mengingatkan jemaat agar tidak melupakan sesama,” ungkapnya.
Acara ibadah dan syukuran tersebut turut dihadiri oleh anggota DPRD Kabupaten Kupang, yakni Yohanis Munah dan Absalom Buy, serta beberapa pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan Bank NTT Oelamasi, dan masyarakat setempat.
Sinergi lintas sektor ini memperlihatkan bahwa upaya membangun gereja dan merawat budaya bukanlah pekerjaan satu pihak, melainkan kolaborasi kolektif dari pemerintah, gereja, dan masyarakat.
Tantangan yang disampaikan Yosef Lede bukan tanpa dasar. Menurutnya, jika masyarakat mau bekerja sama dengan penuh dedikasi dan iman, maka tidak ada yang mustahil, termasuk menyelesaikan proyek besar seperti gereja dalam waktu satu tahun.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.









